Monday, April 15, 2013

one room living design analysis



ONE ROOM LIVING
DESAIN RUANG KESELURUHAN : MENGGUNAKAN GAYA MINIMALIS DENGAN AKSEN MASKULIN. RUANGAN DIDOMINASI DENGAN WARNA UTAMA YAITU HITAM, PUTIH DAN ABU-ABU.
Flooring menggunakan granito atau keramik motif granit ( GRANITO, Ambience Mirror Grove, 60x120 ) berwarna putih-keabuan ditujukkan untuk mengurangi jumlah intensitas keterangan ruang yang didominasi warna putih.
Material yang digunakan didominasi dengan kayu solid ( rangka ) dan acrylic glass, serta suede leather pada sofa dan tempat tidur.

KITCHEN SET & DINING AREA DESIGN
Dapur dan area makan didominasi warna hitam dan putih serta abu-abu (peralatan masak dan lemari pendingin). Bahan material yang digunakan kitchen set dan meja makan adalah kayu solid sebagai rangka dan acrylic glass pada luarnya.
Pada kitchen set warna hitam sebagai warna utama dan putih pada bagian permukaan meja masak. Untuk meja makan warna putih dibagian kakinya dan hitam pada bagian permukaan meja. Dan untuk lighting pada dining area / dining table menggunakan lampu downlight gantung dengan acrylic persegi sebagai rumah lampu.

LIVING ROOM & WORK AREA DESIGN
Warna putih mendominasi area living room melalui flooring dan wall-nya. Untuk sofa (sofa-bed) diberi warna hitam dengan bahan suede leather. Coffee table berwarna white-grey berbahan acrylic glass.
Terdapat perabot yang menjadi pemisah ruang ( living room – bedroom ) yang juga difungsikan sebagai credenza-shelf dan space tempat dudukan TV.
Area kerja dijadikan satu dengan area living room dikarenakan untuk area kerja tidak membutuhkan space ruang yang besar dan juga bukan menjadikan fokus area.

BEDROOM DESIGN
Brick wall pada sisi dinding kepala tempat tidur memberikan efek natural pada ruangan.
Putih tetap menjadi warna basic ruangan pada dinding dan lantai.
Tempat tidur dibuat tidak tinggi untuk memberikan kenyamanan pada penggunanya saat santai.
Bahan permukaan tempat tidur menggunakan suede leather abu abu.

BATHROOM DESIGN
Pada bagian kamar mandi, sisi dinding dibuat tidak dilapisi cat jadi dibiarkan berupa concrete wall atau dinding plesteran untuk memberi kesan sederhana namun elegan. Warna putih pada perabotan dan cokelat sebagai pewarna ruang pada lantai (GRANITO, Castello rustic, 40x40) dan aksen perabot nya.                        

Saturday, April 13, 2013




besaran ruang one room living


TABEL BESARAN RUANG
PELAKU
AKTIVITAS
KEBUTUHAN
AKTIVITAS
DIMENSI
KEBUTU-HAN
RUANG
PERSYARATAN RUANG
BESARAN
RUANG
ZONA RUANG
PENGHAWAAN
UDARA
PENCAHAYAAN
ANTROP-OMETRI
PRIA,
25 THN
TIDUR
TMPT TDR,

SIDE TABLE
TMPT TDR = 200x150x45

SIDE TABLE =
30x30x40
ONE ROOM LIVING
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL,
STANDING LAMP

TMPT TDR=
200x150=
3 m2

SIDE TABLE=
30x30=
0,09 m2
REST
KERJA
MEJA,

KURSI
MEJA =
100x60x75

KURSI =
40x40x45/80
ONE ROOM LIVING
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL,
STANDING LAMP

MEJA=
100x60=
0,6 m2

KURSI=
40x40=
0,16 m2
WORK
NONTON,
GAMING
TV

MEJA / CREDENZA

SOFA
MEJA/CREDENZA
120x45x75

SOFA=
140x60x50
ONE ROOM LIVING
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL,
STANDING LAMP

MEJA=
120x45=
0,54 m2

SOFA=
140x60=
0,84 m2
SOSIALIZE / ENTERTAI-N
MAKAN
MEJA

KURSI
MEJA=
120x80x75

KURSI=
40x40x45/80
DAPUR-ONE ROOM LIVING
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL

MEJA=
120x80=
0,96 m2

KURSI=
40x40=
0,16 m2
EATING
MEMASAK
KITCHEN SET

TEMPAT PERALATAN MASAK
KITCHEN SET
L=60, T=90

TEMPAT PERALATAN MASAK=
L=45
DAPUR
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL

BERVARIASI
KITCHEN
BERPAKAIAN
TEMPAT PAKAIAN

CERMIN
TEMPAT PAKAIAN=
200x60x250
ONE ROOM LIVING
ALAMI= JENDELA & PINTU

BUATAN=
AIR CONDITIONING (AC)
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL

TEMPAT PAKAIAN=
200x60=
1,2 m2
DRESSING
MANDI
BATHTUB + SHOWER

LAVATORY

WTR CLOSET
BATHTUB=
200x70x50

LAVATORY=
65x50x100
KAMAR MANDI
ALAMI=
JENDELA & PINTU

BUATAN=
EXHAUST FAN
ALAMI=
JENDELA

BUATAN=
LAMPU TL

BATHTUB=
200X70=
1,4 m2

LAVATORY=
65x50=0,325
SHOWER

Tuesday, April 9, 2013

programming one room living ( UTS DESAIN INTERIOR )


Data Subyek Penghuni One Room Living


­­­­Nama                                  :  Jovin Ng
Jenis Kelamin                     :  Pria
Umur                                   :  25 tahun
Pekerjaan                           :  Financial Manager
Hobby                                 :  Golf, Travelling,
Interest                               : ( WARNA ) Putih, Hitam, Kuning
                                            : ( STYLE ) Minimalist, Simple but comfort
Karakter / Sifat                   :  Melankolis, Maskulin
Status Perkawinan             : Belum Menikah
Status Ekonomi                  : Menengah – Atas






ONE ROOM LIVING

One           :  Satu, Tunggal

Room     :  Ruang / area dengan bentuk 3-Dimensi yang berada di dalam suatu bangunan, tempat beraktivitas

Living        :  Menetap, beraktivitas, tinggal, atau hidup

One Room Living  :    Ruang yang menjadi tempat melakukan seluruh aktivitas dan semua area ( bekerja, istirahat, memasak atau makan, bersosialisasi, bersantai, dll.)



Tujuan Desain
1. Tujuan Perancangan
     Perancangan One Room Living atau sederhananya disebut ruang tipe studio ditujukan untuk pria berusia 25 tahun, berprofesi sebagai financial manager. Financial Manager merupakan orang bertipe pemikir, sehingga suasana lingkungan yang diinginkan biasanya bernuansa yang kalem, tenang, dan ringan. Perancangan ruang ini bertujukan agar subyek atau pengguna dapat menggunakan ruang yang memiliki space yang minim secara efisien untuk memenuhi seluruh kebutuhan aktivitas.

2. Tema Desain
     Interest style dari subyek akan dijadikan sebagai acuan desain ruang yaitu gaya minimalist. Gaya minimalist diharapkan dapat memnuhi karakteristik subyek yang membutuhkan nuansa keadaan sekitar yang tidak terlalu memberatkan. Gaya minimalist difokuskan untuk menciptakan suatu ruang yang memberikan kelegaan, kebersihan dan kerapihan, dan juga ketenangan karena dalam gaya minimalist tidak diperkenankan untuk memainkan banyak warna dan bentuk.

3. Furniture
     Dalam menerapkan penggunaan furniture pada ruang studio, jumlah furniture tidak diperkenankan berlebihan karena akan menciptakan ruang yang penuh dan sesak. Sehingga penggunaan furniture harus seminimal dan seefisien mungkin untuk menciptakan keluasan pada ruangan. Penempatan furniture tidak diperbolehkan mengambil space area lain.

4. Warna
     Dalam perancangan ruang studio, warna yang digunakan relatif ringan untuk menciptakan suasana yang tenang, serta warna netral seperti putih memberikan efek luas, terang dan bersih. Penambahan ekstra warna pastel untuk memberikan aksen pada ruang sehingga tidak terlihat monotone.

Friday, March 15, 2013

perspective (revisi)

bahan meja terbuat dari karet dan acrylic, dinding menyerupai pagar pembatas lintasan circuit,
dan lantai sebagai lintasan balap. Turunan pada Gypsum seperti gambar 1.

Lemari pakaian + tempat mainan menyerupai rak ban.


Sunday, March 10, 2013

Persentase kegiatan anak dalam Kamar 

Zoning & Blocking
Human Dimension


Space for Furniture

Plan A

Plan B

Plan C


Sunday, February 24, 2013

Eco-Green Design


Green Design / Eco Design


I. Pengertian Green Design

Green Design / green architecture adalah rancangan desain / bangunan yang mengutamakan kelestarian ekosistem antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Yang dimaksud dengan kelestarian ekosistem adalah kita sebagai pengolah, mengolah atau mengambil sumber daya dari alam dengan tidak secara berlebihan dan tidak menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan. 

Green Design juga mengacu pada Sustainable Development (pengembangan berkelanjutan) yang dimaksudkan dengan pengembangan atau pembangunan yang dilakukan masa sekarang untuk kebutuhan sekarang tidak menyebabkan kekurangan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. 

II. Ekosistem

Ekosistem merupakan sistem ekologi yang terbentuk dari hubungan timbal-balik antara makhluk hidup (biotik : manusia, hewan, dan tumbuhan) dengan makhluk tidak hidup (abiotik : tanah, air, sinar matahari, dan udara) yang saling membutuhkan satu dengan yang lain.

Jadi, dasar dari eco design adalah keberlangsungan atau kelestarian dari ekosistem.

III. Desain Interior

Desain interior adalah perancangan desain ruang dalam dengan menyatukan elemen-elemen desain untuk mencapai tujuan estetis, kenyamanan, dan keamanan.

Sebagai desainer interior, tidak hanya memiliki tugas menata ruang menjadi terlihat indah dan nyaman, tapi juga sebagai problem solver atau pemecah masalah yang ada pada ruangan / bangunan dan meyelaraskannya dengan lingkungan sekitar yang ada untuk memenuhi kebutuhan klien.

Dalam desain terdapat 7 prinsip desain yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah desain :

  • Unity dan harmony : sebuah ruangan dianggap memiliki kesatuan ketika elemen yang ada saling melengkapi dan berkesinambungan satu dengan yang lain sehingga menghasilkan komposisi yang seimbang.
  • Keseimbangan : tidak "berat" sebelah, tidak condong ke salah satu sisi ruangan. Terdapat kesimbangan simetris dimana berat visual elemen desain seimbang secara horisontal maupun vertikal. Keseimbangan asimetris dimana berat visual elemen desain tidak merata di poros tengah. Keseimbangan radial : semua elemen desain tersusun dan berpusat di tengah.
  • Focal point : aksen pada ruang yang menjadi daya tarik ruangan atau ciri khas ruangan.
  • Ritme : pengulangan pola tentang visual pada ruang.
  • Detail : penataan aspek desain (cahaya, material, dll.) untuk meningkatkan suasana ruangan.
  • Skala dan proporsi : hal ini mengenai bentuk dan ukuran yang harus seimbang antara benda (perabot, aksesori) satu dengan yang lain. Bentuk dan ukuran yang tidak seimbang akan menimbulkan rasa tidak nyaman akan desain suatu benda. 
  • Warna : warna pada ruang akan menciptakan nuansa dan mood pada ruangan.


IV. Elemen Interior 

Elemen dalam interior terdapat 3 bagian :
  1. Dinding : difungsikan sebagai pembatas antar ruang, mempengaruhi efek psikis seperti memberi rasa aman dari lingkungan luar. 
  2. Lantai : elemen yang berada dalam ruangan yang sebagai penunjang segala komponen yang berada di dalam ruangan. macam-macam flooring : kayu (parkit, papan kayu, rotan), fabrikasi (karpet), batu (marmer, granit), tanah liat (keramik), resin (lapisan karet, vinyl).
  3. Langit-langit 

V. Penerapan Eco-Green Design 

Dalam menerapkan desain bangunan yang eco-green, terdapat prinsip-prinsip yang diterapkan dalam perencanaan pembangunan, yaitu :

1. Conserving energy ( hemat energi ) :

Mengoperasikan bangunan secara ideal yaitu dengan menggunakan sumber energi yang langka dan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan kembali se-sedikit mungkin. Seperti : meminimkan penggunaan pencahayaan buatan dengan memaksimalkan pencahayaan alami dari sinar matahari dengan banyak bukaan pada bangunan. Dan mengurangi penggunaan penyejuk ruangan dengan memaksimalkan fungsi bukaan pada bangunan, dll. 

2. Working with climate (memanfaatkan kondisi iklim dan alam lingkungan) :

Melalui pendekatan green design, bangunan beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim, dan lingkungan sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan. 
Misalnya dengan cara : 
  • orientasi bangunan terhadap sinar matahari
  • menggunakan jendela dan atap yang dapat dibuka-tutup untuk mendapatkan cahaya dan pengudaraan sesuai kebutuhan.

3. Respect for site (menanggapi tapak bangunan) :

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadaan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara :
  • desain bangunan dengan menggunakan tapak yang lama atau yang sudah ada.
  • menggunakan material yang tidak merusak lingkungan.
  • luas bangunan < luas lahan, hal ini dimaksud agar terdapat ruang terbuka hijau pada bangunan.

4. Respect for user (menanggapi pengguna bangunan) :

Pemakai dan  green design mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan arsitektur hijau harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

5. Limitting new resources (meminimalkan penggunaan sumber daya baru) :

Suatu bangunan seharusnya dirancang dengan mengoptimalkan material yang sudah ada (lama) dan meminimalkan penggunaan meterial baru.


Selain prinsip-prinsip mengenai eco-green design, terdapat konsep-konsep yang juga perlu dijadikan pertimbangan rancangan pembangunan, diantaranya :

1. Site Planning dan kulit bangunan : 

Site planning (orientasi bangunan) berkaitan dengan pemilihan lokasi. Jika lahan menghadao ke barat, desain bangunan dapat direkayasa. Salah satunya dengan menerapkan second skin. Atau, jika ingin tampak depan bangunan minim bukaan karena menghadap ke arah barat, kulit bangunan atau dinding bangunan harus lebih tebal untuk mengurangi panas yang masuk. Atau, jika terdapat bukaan, dapat dibuat shading atau overstep atap, atau screen dengan roster atau tanaman di depannya.

2. Penghematan energi : 

Ini juga berkaitan dengan kulit bangunan. Bangunan yang efisien tentu akan menggunakan energi yang lebih kecil. Bangunan dengan banyak bukaan akan lebih hemat energi daripada bangunan dengan penggunaan pendingin ruangan.

3. Konservasi air : 

Lahan yang ada tidak seluruhnya digunakan sebagai "full" bangunan, akan lebih baik jika ada area atau daerah resapan air. 

4. Kondisi udara dalam ruangan : 

Ini berkaitan dengan masalah pencahayaan dan penghawaan. Pertimbangan penggunaan bukaan pada bangunan secara efisien yang difungsikan sebagai tempat masuknya sinar matahari sebagai pencahayaan alami dan udara.

5. Penggunaan material : 

Gunakan material yang ramah lingkungan. Contoh, jangan menggunakan cat dengan pelarut yang mengandung VOC (volatile organic compound) karena berbahaya. Lebih baik menggunakan cat dengan pelarut water-based yang ramah lingkungan. Untuk renovasi, gunakan material dari bangunan lama yang kondisinya masih bagus.

6. Manajemen : 

Memikirkan perencanaan rancangan bangunan sebaik mungkin agar menghindari terjadinya pembangunan ruangan-ruangan yang tidak terpakai secara efisien.


VI. Kesimpulan

Seluruh kebutuhan manusia telah disediakan dan berasal dari alam. Kita diperkenankan untuk mengambil, memanfaatkan, dan mengolah segala sesuatu yang berada pada alam bumi ini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun semuanya itu tidak dilakukan secara berlebihan dan tanpa tindak menjaga kelestarian alam. 
Penerapan akan eco-design dalam arsitektur dan desain interior difungsikan untuk memecahkan masalah mengenai keterbatasan akan tersedianya bahan pemenuh kebutuhan hidup untuk saat ini dan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Dan juga sebagai kepedulian akan kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem.

Dalam penerapannya ke dalam interior/arsitektur, pemahaman eco-living akan mendasari segala penggunaan material/bahan yang dipilih guna menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem (sustainable). Dengan penjelasan akan eco-green design diatas, kita memahami arti pentingnya kelestarian ekosistem bumi kita untuk saat dan masa datang.